Bagaimana Saya Mengatasi Anak yang Terlambat Bicara

Dalam fase pertumbuhan anak, salah satu titik kritis adalah fase dimana dia mulai belajar berkomunikasi. Salah satu masalah dalam fase ini adalah anak mengalami keterlambatan dalam berbicara. Nah pada artikel kali ini, saya akan berbagi pengalaman dalam mengatasi anak terlambat bicara.



Mengenali Fase Pertumbuhan Anak


Kata para ahli perkembangan anak bisa berbeda-beda. Setiap manusia memiliki perkembangan yang khusus. Perkembangan tersebut disesuaikan dengan lingkungannya masing-masing. Begitu teori perkembangan anak yang dikemukakan oleh Robert J. Havighurst.

Meski perkembangan anak berbeda-beda, namun ada indikator umum yang bisa menjadi patokan. Terutama menyangkut perkembangan anak dalam berbicara.

Saya sendiri pernah merasa khawatir ketika Shafiyyah Hanum tidak seperti balita yang lain. Saat balita seumurannya sudah bisa mengucapkan "mama minta minum", meski dengan cadel dan tidak lancar, namun suaranya nyaring. Hanum tidak begitu.

Ketika meminta sesuatu, Hanum hanya menunjuk saja. Yang mengkhawatirkan tentu saja ketika kami, orang tuanya, tidak mengerti apa yang diinginkannya. Ia memang bicara, tapi entah saat itu apa yang diucapkannya.

Setahun kemudian, saat kami bersilaturahmi ke rumah kakak saya, rasa khawatir ini semakin membuncah. Anak-anak seusia Hanum sudah pandai berbicara. Bahkan, umpatan ibu mereka ketika marah ditirukannya dengan lantang dan lancar.

Sementara Hanum hanya diam dan mengucapkan sepatah dua-patah kata saja. Yang kadang-kadang kami juga belum sepenuhnya mengerti.

Mengetahui Sebab Lambat Bicara


Sebagai ayah, saya merasa bersalah. Apalagi banyak yang bilang, kalau seharusnya anak perempuan mesti dekat dengan ayahnya. Biarkan ayah menjadi cinta pertama bagi anak perempuan mereka. Agar anak cerdas dan memiliki pemikiran yang logis.

Saat pertama kali menjadi ayah, saya masih terbawa kehidupan keluarga dulu. Saya sendiri hidup tanpa seorang ayah. Beliau wafat saat saya berusia dua tahun. Alhamdulillah, saya dikaruniai seorang ibu yang perkasa.

Ndilalah-nya saya anak bungsu. Ketiga kakak saya perempuan dan jarak usianya cukup jauh. Maka jadilah saya 'diasuh' oleh empat orang perempuan. Meski begitu, untunglah, saya tidak kemayu. Hanya saja perbedaan gender membuat saya kurang bisa berkomunikasi.

Sudah pun tanpa ayah, saya pun terlahir dari keluarga yang sederhana. Dua faktor ini membuat saya banyak menjadi pribadi yang pendiam di berbagai kesempatan. Hal ini terbawa hingga saya berumah tangga dan menjadi seorang ayah.

Faktor inilah yang menurut saya menjadi sebab mengapa putri saya ini juga mengalami terlambat bicara. Ya, karena saya jarang mengajaknya berkomunikasi.

Bukankah ada istri saya yang semestinya juga mengajaknya berkomunikasi? Iya, sudah dilakukan. Tetapi komunikasi darinya tidaklah cukup. Intensitas hubungannya dengan Hanum memang 60% lebih banyak dibandingkan saya. Namun itupun banyak dipangkas oleh pekerjaan domestik. Dan saya tak bisa banyak membantunya.

Tumbuh kembang Hanum pun berada di lingkungan pensiunan, sehingga praktis tidak ada teman sebayanya yang diajak serta berkomunikasi.

Terakhir yang saya ingat adalah pemberian tablet untuk memutar video-video lagu islami. Yang saya sesalkan adalah kadang-kadang tablet itu terhubung pula dengan komputer.

Jadi dari beberapa faktor yang bisa saya simpulkan, penyebab anak terlambat bicara adalah:

1. Kurangnya ayah mengajak anak berkomunikasi.
2. Lingkungan rumah yang minim teman sebaya si anak.
3. Pemberian gawai sebelum waktunya.

Komitmen Terhadap Proses


Saya memang khawatir ketika mengingat teori dari Franz J. Monks. Ahli psikologi Jerman ini pernah mengatakan bahwa perkembangan merupakan suatu proses menuju kesempurnaan yang tidak pernah terulang kembali.

Artinya saya khawatir kalau Hanum tetap terlambat bicara dan itu bakal memengaruhi sepanjang hidupnya. Namun saya ingat bahwa masa-masa balita menjadi masa-masa emasnya untuk dilatih agar ia bisa berkomunikasi.

Apa yang saya lakukan setelahnya?

Dari beberapa identifikasi, saya pun mulai banyak meluangkan waktu untuk membuka komunikasi. Beberapa patah kata yang mudah terus saya ucapkan sebagai bahan basa-basi.

Ketika di rumah, saya sempatkan untuk menanyakan boneka-boneka hasil pemberian sanak-saudara. Saya ajak ia bermain sandiwara boneka. Hal ini juga ditujukan agar perhatiannya tidak banyak tertuju ke gawai. Ya, hampir setiap hari saya melakukannya.

Yang paling agak lebih baik adalah kami pindah ke perumahan lain. Rumah yang lama kami jual. Kami memulai usaha kecil di rumah baru tersebut.

Hikmahnya adalah banyaknya orang yang datang ke rumah membuat perbendaharaan kosakata Hanum jadi lebih baik. Ditambah lagi ada cukup banyak teman sebaya yang menjadi teman bermainnya.

Tentu ada sisi negatif juga, yakni Hanum terbawa lingkungan yang ada saja sisi negatifnya. Tetapi itu sedikit lebih baik daripada ia terlambat berbicara dan gagal dalam berkomunikasi.

Kami masih terus berproses untuk membuatnya berkomunikasi lebih baik lagi. Memang masih ada yang kurang, namun setidaknya kami sudah berusaha dan beberapa kali memperbanyak literatur dan bertanya ke orang yang lebih memahami hal ini.

Penutup


Saat ini Hanum sedang mengikuti persiapan untuk sekolah dasar. Tahun depan ia bakal berseragam merah-putih. Gurunya terus mewanti-wanti kalau Hanum masih belum bisa berkomunikasi dengan baik. Kata-katanya sering terbalik-balik.

Buat saya ini masalah baru. Apakah karena ia hidup bersama saya yang kerap melihat dan mendengar media audio-visual berbahasa Inggris? Kata para ahli sih itu yang menjadi penyebabnya.

Buat saya ini pekerjaan rumah lagi. Sampai saat ini, saya masih mencari tahu solusinya. Anda tahu? Share yuk di kolom komentar.

0 Response to "Bagaimana Saya Mengatasi Anak yang Terlambat Bicara"

Post a comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel